Tuesday, March 4, 2014

cerita-cerita yang tidak pernah selesai

Laptop Lenovo 3000 N100 yang sudah saya pakai selama enam tahun sejak awal kuliah, akhirnya resmi meninggal dua minggu lalu. Menurut pihak service center, internal receiver usb (atau apalah itu) yang ada di motherboardnya rusak. Enam bulan saya menunggu mereka mencarikan spare part untuk mengganti bagian yang rusak itu. Sejak awal Agustus tahun lalu, si Lenovo teronggok di salah satu ruang di service center itu, mungkin berdebu, yang pasti tidak tersentuh. Dua minggu lalu, akhirnya mereka mengabari saya bahwa si Lenovo tidak bisa diselamatkan lagi. Pabrik sudah tidak memproduksi spare part yang rusak itu. Lenovo hanya tinggal besi berat tanpa guna. Yang tersisa darinya hanya data dari internal harddisk yang untungnya masih selamat. 

Data yang saya cari pertama-tama begitu internal harddisk si Lenovo kembali ke genggaman yaitu file ISO konser Tokyo Jihen dan puluhan mp4 boyben Korea Selatan. Ahaha, iya. Ada keringat, tawa, delusi, dan giga-an bandwidth yang habis terendap di file-file tersebut. 

Baru malam ini saya ingat punya bagian lain yang lumayan penting di harddisk itu. Tiga tahun belakang ini sudah jarang sekali dibuka. Dia sub-folder di tumpukan file-file kebutuhan belajar selama SMA dan kuliah. Namanya cerpen. Isinya sekitar tiga puluh file. Sebagian kecil cerpen yang pernah saya muat disini, sebagian besar sisanya adalah cerita-cerita yang tidak pernah selesai: cerpen setengah jadi, dua puluhan halaman prolog novel, dan ending yang terlalu cepat ditulis (prolog dan bodynya belum selesai, endingnya sudah jadi. haduh). Beberapa masih belum berhasil saya buka, lupa password. Klasik. Hampir semua bikin saya nyeri bacanya. Nulis kok dulu gitu-gitu amat ya, malu rasanya. 

Meskipun memalukan, saya yang dulu masih lebih baik daripada saya yang hampir tidak pernah nulis apa-apa tiga tahun belakangan ini. Ide tinggal usang di otak. Kalimat-kalimat tersangkut di tumblr dan twitter, tanpa kerangka, minim arti. Dulu, meskipun remeh dan picisan, saya tahu mau menulis apa. Meski terbata-bata, tapi setidaknya ia sedikit tersampaikan di atas kertas. Meski seringnya tidak pernah selesai. Sekarang, mau menulis apa saja saya tidak tahu. Semua sepertinya pernah dan sudah selesai diceritakan. Mengulang yang sudah ada terasa sia-sia. Parahnya lagi, saya masih terbata-bata. Dan memulai kembali masih menjadi bagian tersulit dari menyelesaikan sesuatu. Huuh, mari tarik nafas dan buang nafas saja.

Ini, ada puisi yang saya termukan di salah satu file kumpulan puisi saya sejak SMA. Untung sekali saya masih ingat passwordnya, meskipun ngejelimet, tidak ada arti, dan beda kata untuk level baca saja dan bisa modifikasi. Dibuat pertengahan 2007, semacam kegamangan ala anak yang baru lulus SMA. Bingung mau kemana, takut ditinggal dan dilupakan, khawatir gagal dan sebagainya itu. Sekarang sudah 2014, dan gamang itu masih benar-benar ada. 

==========

fragmen P-P

Ada kala rasa datang tanpa permisi
Lalu pergi tanpa menutup pintu
Engsel terbuka bergesek perlahan, namun tak sadar apakah ada yang benar pergi

Kemudian ia datang, kemudian ia pergi
Ia datang, dan pergi lagi

Tak ada berita angin atau celotehan burung
Hanya tanya dan resah yang tersisa
Apakah akan kembali, lagi?

Dan dinding putih mulai mendingin,
Kelambu abu mulai berjuntai di atas ranjang,
Selimut telah tergelar,
Capai mulai menjalar

Lelah menunggu dan berharap
Dalam tiap nafas yang kemudian hanya timbul marah dan kecewa
Langkah-langkah mulai menjauh

ditulis pada 9:08 pm, 270807.

No comments: